Mengenang Kemuliaan, Menjadi Suri Teladan
Posted in: on Minggu, 03 Februari 2008 at di 20.45 0 komentar
Posted in: on Minggu, 03 Februari 2008 at di 20.45 0 komentar

(Sripo, Senin/16 Oktober 2006)
MASJID yang satu ini telah terkenal bahkan sampai di manca
negara. Seringkali wisatawan dari negara tetangga mengunjungi
masjid ini sekaligus berziarah ke makam pendirinya. Masjid Muara Ogan, masjid
yang terletak di pinggiran Sungai Musi ini merupakan satu dari dua
masjid tua yang didirikan Kiai Muara Ogan. Menurut sejarah,
selain Masjid Muara Ogan, kiai bernama asli Mgs Abd.Hamid Bin
Mahmud ini juga mendirikan masjid Lawang Kidul di seberang
ilir sungai musi. Mengenai nama masjid ini,
Mgs Usman Ahmad, pengurus masjid mengatakan, pada mulanya
masjid ini didirikan di atas rawa-rawa di muara Sungai
Ogan, makanya dinamakan Masjid Muara Ogan. Menurut
Usman masjid ini pada saat didirikan tahun 1871 luasnya hanya
sekitar 18 x 20 meter persegi. Namun setelah dua kali
direnovasi luasnya bertambah menjadi 40 x 30 meter persegi.
Saat dikunjungi Selasa (10/10) masjid yang disamping kirinya
terdapat makam Kiai Muara Ogan ini sedang direnovasi.
Informasi yang didapat renovasi ini merupakan bantuan
dari tokoh masyarakat Palembang, Kms H Halim, yang
sebelumnya pada tahun 1989 juga telah membiayai renovasi
masjid ini. Di bagian barat masjid tepatnya
di depan mihrab terdapat dermaga, sebagai jalan masuk
menuju masjid melalui sungai. Sebagai mana masjid tua di Palembang
lainnya, masjid ini ditopang oleh tiang-tiang berbentuk
persegi delapan. Menurut Drs Mgs Ilham jumlah tiang
yang lima belas tersebut sesuai dengan jumlah cucu dari masing-
masing anak Kiai Muara Ogan. Ilham yang merupakan salah
satu keturunan Kiai Muara Ogan menyayangkan banyaknya bagian
masjid yang telah berganti bentuk. Menurutnya seharusnya
pada saat renovasi bagianbagian asli masjid tetap dipertahankan,
atau jika diganti bentuknya tetap seperti semula.
Saat ini tambahnya, hanya beberapa bagian saja termasuk
mimbar dan beduk yang masih asli, sisanya sudah diganti.
Posted in: on at di 20.41 0 komentar
Haul ke 101 Ki Merogan (Sripo, Senin, 04 November 2002)
ALUNAN suara jemaah membaca surah yaasin yang dilanjutkan tahlil menggema dari dalam masjid tua di Lawang Kidul, 5 Ilir, Palembang. Suara yang keluar dari mulut para ulama berpadu dengan suara jemaah masjid menandai haul wafatnya Kiai Muara Ogan atau yang lebih dikenal Ki Merogan ke-101, Sabtu (2/10) di Masjid Lawang Kidul.Haul yang berlangsung dalam suasana sederhana serta hikmad dihadiri beberapa ulama dari berbagai wilayah di Palembang. Itu membuktikan Ki Merogan merupakan ulama di Palembang yang mempunyai pengaruh baik di masanya sampai dengan kini. Di antara ulama yang hadir antara lain KH Ahmad Syafei Yunus dari 8 Ilir, M Nurdin Mansur (1 Ulu), Ustadz Habib Ubaidillah (10 Ilir), Ahmad Umar (5 Ilir) serta beberapa ulama lain yang turut diundang.Haul wafatnya Ki Merogan yang wafat 31 Oktober 1901 merupakan acara rutin tahunan. 2001 lalu telah dilaksanakan di Masjid Ki Merogan, Kertapati dan tahun ini dilakukan di Masjid Lawang Kidul. Di tempat ini, selain membaca surah yaasin dan tahlil, haul juga diisi ceramah agama tentang teladan sikap seorang kiai. Ceramah disampaikan dua ustadz masing-masing Kiai Haji Ali Umar Toyib dan Habib Kiai Haji Umar Abdul Aziz Syahab.Sementara dalam penuturan singkat riwayat Ki Merogan, Ketua Pengurus Kerukunan Keluarga Kiai Muara Ogan, Mgs Ahmad Fauzi, SPd kepada Sripo mengatakan peninggalan Ki Merogan yang masih dapat disaksikan berupa dua masjid yang sampai saat ini masih berdiri kokoh. Masjid itu masing-masing adalah Masjid Lawang Kidul di 5 Ilir serta Masjid Ki Merogan di Kertapati.Dalam riwayatnya, Ki Merogan yang juga bernama Masagus Haji Abdul Hamid awalnya bermukim di tanah Arab sebelum memutuskan kembali ke Palembang. “Di sana waktu mau pulang sempat ditahan keluarganya. Namun ia berkeinginan besar pulang ke Palembang. Katanya ia meninggalkan dua anak yatim yang ternyata kemudian diketahui dua anak yatim itu adalah dua masjid yang pernah dibangunnya,” papar Ahmad Fauzi.Di zaman pemerintahan Belanda, jemaah Masjid Lawang Kidul pernah dilarang menunaikan Shalat Jumat oleh pemerintah Belanda. Tetapi dengan kegigihan Ki Merogan dibantu sahabatnya antara lain Syech Khatib Minangkabau akhirnya Shalat Jumat tetap dapat terlaksana.Menurut Ahmad Fauzi riwayat hidup dan cerita seputar Ki Merogan umumnya diketahui dari mulut ke mulut. Cerita lain tentang Ki Merogan yakni tentang pembuktian di hadapan Belanda bahwa di mana ada air di situ ada kehidupan. Itu dibuktikan dengan membelah kelapa dan terbukti dalam kelapa terdapat ikan.Acara haul tersebut, kata Ahmad Fauzi, diharapkan dapat membina moral generasi muda dengan mencontoh sikap rela berkorban untuk kepentingan agama. (sugeng hariadi)
Posted in: on at di 20.33 0 komentar

Masjid Kiai Muara Ogan, Wong Plembang biasa menyebutnya Ki Merogan, merupakan salah satu masjid bersejarah. Masjid yang dibangun masa penjajahan Belanda atau sekitar tahun 1871, kini sudah berusia lebih dari 135 tahun. Selama kurun waktu itu, masjid yang didirikan Mgs H Abdul Hamid bin Mahmud, baru tiga kali direnovasi. Renovasi pertama pada masjid yang ukuran 30 m x 30 m ini sekitar tahun 1950. Saat itu, pemugaran dilakukan secara besar-besaran, termasuk merubah bentuk kubah. Kemudian pada 1989, bentuk asli masjid dikembalikan kembali. Saat itu, pembangunan masjid yang didanai sepenuhnya oleh pengusaha kaya H Halim, diresmikan oleh Menteri Kehutanan RI Ir Hasrul Harahap. Terakhir, pemugaran dilakukan pada 2006, yang juga didanai oleh H Halim. Disebut Muara Ogan, karena masjid ini terletak di pinggir sungai, yang merupakan pertemuan aliran Sungai Ogan dan Sungai Musi. Karenanya, masjid tersebut disebut Muara Ogan.Ketua Yayasan Masjid Kiai Muara Ogan yang juga merupakan keturunan ketiga pendiri Masjid Mgs Usman Ahmad, kepada koran ini menuturkan, pendiri Masjid Muara Ogan merupakan orang ternama, sekaligus pengusaha kayu terbesar. Selama hidupnya, Mgs Abdul Hamid lebih memilih ke bidang dakwah dari pada bisnis. Tak heran dalam rentang waktu hidupnya antara 1810–1901, Mgs Abdul Hamid sudah mendirikan dua buah masjid, satunya lagi Masjdi Lawang Kidul yang berada di Kecamatan Ilir Timur (IT) II. Soal jemaah, ditambahkannya, yang berkunjung ke masjid ini bukan hanya dari Kota Palembang, tapi juga berasal dari luar kota. Jumlahnya pun tidak sedikit, apalagi pada Bulan Ramadan ini. Gelombang jemaah terus berdatangan silih berganti, mulai pagi hari, hingga saat berbuka puasa. Umumnya jemaah datang untuk berziarah. Sebab, dalam bangunan masjid tersebut, terdapat Makam Kiai Muara Ogan beserta zuriatnya. “Para penziarah datang ke sini untuk berdoa. Karena pada bulan Ramadan, makam para wali di jaga langsung oleh malaikat. Karenanya, para penziarah berdoa di tempat ini dengan harapan doa mereka diterima Allah SWT,” jelasnya. Doa mereka pun beragam, mulai dari menginginkan kerukunan dalam rumah tangga, berharap jodoh, dan meminta ampunan kepada Allah SWT. “Tapi yang perlu diingat, para jemaah tersebut berdoa bukan pada Kiai Muara Ogan, tetapi berdoa langsung kepada Allah, hanya saja tempatnya dilakukan di sini,” bebernya. Cukup sampai di situ? Ternyata tidak. Pada bulan Ramadhan, masjid ini juga melakukan berbagai ritual keagamaan seperti salat Tarawih berjemaah, tadarus Alquran, ceramah Subuh, hingga buka puasa bersama. Khusus buka puasa, pengurus masjid sudah mempersiapkan hidangan gratis. “Yang datang bukan hanya penduduk sekitar masjid, tetapi penduduk pendatang (musafir, red) juga kita terima. Dengan suasana kekeluargaan, kami merayakan buka puasa bersama di masjid ini,” terangnya. (32)
Posted in: on at di 20.28 0 komentar
Oleh: Ilham Khoiri
(Sumber: Kompas)
Arsitektur masjid-masjid tua di Kota Palembang, Sumatera Selatan, menggambarkan semangat pluralisme yang sangat maju pada zamannya. Unsur budaya Arab, Jawa, China, dan Eropa diserap dan dipadukan dalam arsitektur bangunan dengan komposisi yang harmonis. Harmonisasi bentuk itu disatukan pada kebutuhan untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi orang yang beribadah di dalamnya.Masjid Agung merupakan masjid tua dan sangat penting dalam sejarah Palembang. Masjid yang berusia sekitar 259 tahun itu terletak di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang. Tak jauh dari situ, ada Jembatan Ampera. Masjid dan jembatan itu telah menjadi landmark kota hingga sekarang.Keberadaan Masjid Agung tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Kesultanan Palembang Darussalam pada abad XVI hingga abad XIX. Budayawan Djohan Hanafiah dalam buku Masjid Agung Palembang: Sejarah dan Masa Depannya (1988) menyebutkan, Masjid Agung didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah Kesultanan Palembang Darussalam tahun 1724-1758.Tidak seperti dalam tradisi Jawa, masjid itu justru dibangun di belakang keraton dan Benteng Kuto Besak yang menghadap ke Sungai Musi.Tahap pertama pembangunan berlangsung dari tahun 1738 hingga 1748. Mulanya masjid didirikan tanpa menara. Sultan Najamuddin I, putra Sultan Mahmud Badaruddin I, lalu membangun menara di sebelah kanan depan, berbentuk segi enam setinggi sekitar 20 meter.Masjid itu terus mengalami renovasi yang menambahkan beberapa unsur lain dalam bangunan. Renovasi terakhir dilakukan pada masa Gubernur Sumsel Rosihan Arsyad, dan diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, Juni 2003.Dalam sejarahnya, masjid yang berada di pusat kerajaan itu menjadi pusat kajian Islam yang melahirkan sejumlah ulama penting pada zamannya. Syekh Abdus Samad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah adalah beberapa ulama yang berkecimpung di masjid itu dan memiliki peran penting dalam praksis dan wacana Islam.Sosok Masjid Agung saat ini cukup mencolok di tengah Kota Palembang yang semakin padat dan semrawut. Masjid berbentuk bujur sangkar dan bangunan utama berundak tiga dengan puncak atau mustaka berbentuk limas. Undakan ketiga yang menjadi puncak memiliki semacam leher yang jenjang yang dihiasi ukiran bermotif bunga. Pada puncak mustaka terdapat mustika berbentuk bunga merekah. Bentuk berundak dipengaruhi bentuk dasar candi Hindu-Jawa, yang kemudian diserap Masjid Agung Demak yang dipercaya didirikan Wali Songo, penyebar Islam di Jawa.Di atas sisi limas terdapat jurai daun simbar atau semacam hiasan menyerupai tanduk kambing yang melengkung, sebanyak 13 setiap sisinya. Jurai yang berwarna emas itu berbentuk melengkung dan lancip. Tak pelak lagi, bentuk dasar jurai itu menyerupai atap kelenteng.Jendela masjid dibuat besar-besar dan tinggi, sedangkan tiang masjid dibuat kokoh dan besar. Pilihan ini menimbulkan kesan seperti umumnya arsitektur Eropa. Gaya itu juga banyak ditemui pada bangunan Indies, yang dibuat semasa Indonesia dijajah Belanda sekitar abad XVIII hingga awal abad XX.Masjid tua lainSelain Masjid Agung, ada beberapa masjid tua lain di Palembang yang didirikan pada masa Kesultanan Palembang atau setelahnya. Komponen arsitektur utama masjid-masjid itu umumnya menginduk kepada bentuk Masjid Agung, tetapi ukurannya lebih kecil. Beberapa masjid itu juga memiliki sejarah unik dan peran penting dalam pertumbuhan agama Islam di Palembang dan sekitarnya.Masjid-masjid itu antara lain Masjid Muara Ogan, Masjid Lawang Kidul, Masjid Suro, dan Masjid Sungai Lumpur. Masjid Muara Ogan dibangun di sudut Sungai Ogan dan Sungai Musi, termasuk Kecamatan Kertapati, sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Palembang. Saudagar Masagung Abdul Hamid, yang dikenal sebagai Kiai Muara Ogan, mendirikan masjid itu tahun 1889. Nama masjid merujuk pada sebutan Kiai Muara Ogan.Masjid Lawang Kidul terdapat di Kelurahan 5 Ilir, di tepi Sungai Musi. Masjid ini juga didirikan Kiai Muara Ogan tahun 1881 dengan nama Masjid Mujahidin, tetapi kemudian lebih dikenal sebagai Masjid Lawang Kidul. Masjid Suro terletak di Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, sekarang bernama Masjid Mahmudiyah. Masjid ini didirikan Kiagus H Mahmud Khatib dan Kiai Delamat, murid Kiai Muara Ogan, tahun 1906.Ada lagi Masjid Sungai Lumpur yang didirikan Said Abdullah bin Salim al-Kaff di Kampung 14 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II. Daerah itu termasuk kawasan komunitas keturunan Arab.Bentuk bangunan utama Masjid Muara Ogan, Lawang Kidul, Masjid Suro, dan Masjid Sungai Lumpur secara umum menyerupai bentuk Masjid Agung. Masjid-masjid ini juga menyerap budaya China, Jawa, Arab, Eropa, dan Palembang dalam bentuk yang padu.Arsitektur Masjid Agung dan beberapa masjid lama di Palembang menawarkan bentuk-bentuk yang simbolik. Undak-undakan di pelataran dan di atap masjid, misalnya, melambangkan tarekat atau perjalanan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tingkat pertama merupakan syariah atau tahap penertiban amal perbuatan yang baik, sesuai dengan tuntunan agama. Tingkat kedua mencerminkan hakikat atau proses pencarian atas ruh yang tersimpan di balik perbuatan yang kasatmata. Tahap ketiga menjadi puncak perjalanan karena manusia telah mengalami maĆ¢€™rifat, mengenal hakikat Tuhan.Bentuk undak-undakan senantiasa mengajak manusia untuk mengasah diri dengan menertibkan perbuatan, meraih makna, dan mengenal Tuhan. Tahap-tahap itu merupakan perjalanan spiritual yang tiada berakhir
Posted in: on at di 20.23 0 komentar

SRIWIJAYA POSTMinggu, 24 September 2006 FOKUS
KEBERADAAN masjid-masjid
tua di Kota Palembang sampai
saat ini masih tetap menjadi
tempat ibadah utama masyarakat.
Beberapa bangunan
masjid tua ini sudah banyak
yang mengalami penambahan
dari bangunan aslinya. Tetapi
ada juga bangunan awalnya tidak
diubah. Hanya direnovasi
dan pergantian bahan dari kayu
ke beton semen atau penambahan
bangunan baru yang
mengelilinginya untuk menampung
jumlah jamaah yang
terus bertambah.
Perluasan dan penambahan
bangunan baru masjid-masjid
tua itu dilakukan untuk menampung
bertambahnya jamaah,
khususnya jamaah sholat
Jumat dan tarawih di Bulan Suci
Ramadhan. Contoh yang dapat
dijadikan bukti jika suatu
masjid itu dinyatakan tua, salah
satunya dari bentuk kubah
yang berbentuk limas dan
tiangnya terbuat dari kayu
onglen. Selain itu susunan papan
dari kayu onglen pada kajang
yang mengelilingi bangunan
dalam masjid.
Pengamatan Sripo terhadap
beberapa masjid tua di Palembang
ini, jelas sekali bentuk dan
gaya bangunannya hampir sama
yakni bergaya budaya Palembang
asli. Gaya Palembang
pada bangunan masjid tua itu dapat
dilihat dari bangunan kubahnya
yang dipengaruhi bentuk
rumah limas dan susun kayu
kajang onglen memanjang
mengelilingi ruangan dalam masjid
seperti yang masih bisa kita
lihat di Masjid Lawang Kidul.
Masjid yang dibangun tahun
1891 atau 1310 Hijriyah oleh
Kiai Masagus H Abdul Hamid
Bin Masagus H Mahmud (Kiai
Muara Ogan atau Ki Merogan)
ini usianya sudah 114 tahun.
Masjid-masjid tua di Palembang
ini dibangun dengan
memperhatikan kondisi sosial
ekonomi masyarakat Palembang
ketika itu. Di mana aktivitas
ekonomi dan transportasi
ketika itu melalui sungai.
Keberadaan Sungai Musi tidak
bisa dipisahkan dengan ke-
Masjid Tua Butuh Sentuhan
Mengandung Nilai Sejarah dan Budaya
beradaan masjid-masjid tua di
Palembang. Sungai merupakan
urat nadi kehidupan masyarakatnya
kala itu. Dibangunnya
Masjid Agung Sultan Mahmud
Badaruddin di pesisir Sungai
Musi menunjukkan kepada kita
bahwa arus transportasi satu-
satunya ketika itu adalah sungai.
Sungai menjadi tempat
berlangsungnya perdagangan
(pasar) di mana masyarakat
melakukannya di sungai di atas
perahu-perahu kajang.
Namun sayang, masjid-masjid
tua yang bernilai sejarah
dan budaya itu masih kurang
mendapat perhatian dari pemerintah.
Kecuali Masjid Agung
Sultan Mahmud Badaruddin Palembang.
Masjid yang dibangun
Sultan Mahmud Badaruddin
II ini sudah dinyatakan sebagai
Masjid Nasional, sehingga
perawatan dan pemeliharaannya
menjadi tanggungan pemerintah,
baik pusat maupun
daerah. Dengan kata lain tidak
perlu dikhawatirkan untuk
urusan pendanaannya. Contohnya
saja saat ini Masjid
Agung yang sudah mengalami
beberapa kali renovasi dan penambahan
bangunan itu menjadi
masjid kebanggaan masyarakat
Palembang.
Lain halnya dengan Masjid
Lawang Kidul, Masjid Ki Merogan
dan Masjid Mahmudiyah
(Suro). Masjid Lawang Kidul
sejak dibangun tahun 1891
atau 114-115 tahun silam, sampai
dengan tahun 2006 ini, baru
satu kali mendapat perhatian
serius pemerintah yakni pada
kepemimpinan periode ke III
tahun 1983-1987 di bawah asuhan
KHO Gadjah Nata.
Masjid yang terletak di Kelurahan
Lawang Kidul RT 22 Kecamatan
Ilir Timur II Palembang
ini bentuk aslinya masih
bisa dilihat dengan jelas. Bangunannya
berbentuk empat persegi
panjang dengan satu kubah
limas di atasnya. Kemudian
masjid ini diperluas dengan
membangun bangunan baru
berbentuk letter L mengelilingi
bentuk dua perempat bangunan
aslinya tapi tanpa mengubah
bentuk asli masjid.
Bangunan tambahan itu sampai
sekarang tidak banyak berubah
sepertinya kurang mendapat
perhatian dan terkesan
kusam. Tiang penyangganya
masih ada yang terbuat dari
tiang kayu bersegi empat dan
sebagian lagi tiang beton bersegi
bahkan atapnya seng.
Uniknya masjid ini, meskipun
bangunan tambahannya seperti
kurang terawat namun, bagian
dalam bangunan aslinya
cukup indah.
Kondisi yang dialami Masjid
Lawang Kidul ini juga dialami
masjid-masjid tua lainnya seperti
Masjid Mahmudiyah
(Masjid Suro) di 30 Ilir Palembang.
Masjid ini juga belum banyak
mendapat sentuhan serius
dari pemerintah. Bangunannya
masih berupa beton semen
yang lama.
Mansyur H Husin, Wakil Ke-
KOTA Palembang memiliki cukup banyak masjid yang
berusia 100 tahun ke atas. Sebut saja Masjid Agung Sultan
Mahmud Badaruddin, Masjid Kiai Merogan, Masjid Lawang
Kidul, bahkan Masjid Mahmudiyah (Suro) juga termasuk
masjid tua yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Seperti
apa kondisi masjid-masjid tua yang tersebar di beberapa
kawasan dalam Kota Palembang itu?. Berikut laporan Wartawan
Sriwijaya Post, Tarso, yang disajikan dalam edisi
Fokus minggu ini.
LAIN lagi dengan Masjid Ki
Merogan, masjid yang umurnya
lebih tua 15 tahun dari
Masjid Lawang Kidul ini dibangun
dulu oleh Ki Merogan beberapa
tahun kemudian sebelum
membangun Masjid Lawang
Kidul.
Bangunan awalnya masjid
yang terletak di Jl Ki Merogan
RT 01 Kelurahan Kertapati Palembang
ini tidak jauh beda dengan
Masjid Lawang Kidul. Hanya
saja masjid ini sempat mengalami
perubahan bentuk kubah
limas menjadi bundar kemudian
dirubah lagi menjadi
bentuk limas.
Nasib masjid ini juga lebih
beruntung daripada Masjid Lawang
Kidul, selain mendapat
bantuan pengusaha H Halim
dalam hal penambahan bangunan
dan renovasinya, sering juga
mendapat kunjungan pejabat
negara dan pejabat pemerintah
setempat seperti presiden,
menteri, gubernur dan
walikota.
Bahkan pembangunan per-
Renovasi Bantuan H Halim
luasan bangunan dan renovas
yang sekarang sedang dilakukan
pihak yayasan dengan bantuan
dari pengusaha Palembang,
H Halim. Keliling bangunan
masjid ini semuanya beton
yang dipadu dengan tiang-tiang
beton tambahan batu pualam
dibuat pintu dan jendela kaca.
Kondisinya beda sekali dengan
Masjid Lawang Kidul dan Suro.
Masagus (Mgs) Usman Ahmad,
Ketua Yayasan Masjid Kiai
Merogan ditemui Sripo, Sabtu
(23/9) mengatakan masjid ini
sudah dua kali mendapat bantuan
dari H Halim, baik pembangunan
perluasan bangunan
maupun renovasinya. "Yang
sekarang sedang kami lakukan
ini, membuat pintu dan jendela
mengelilingi bangunan dananya
juga dari bantuan pak H
Halim, pernah juga ada dibantu
pak Taufik Kiemas, suami ibu
Mega tahun 2005 lalu sebesar
Rp 10 juta," kata Usman Ahmad,
seraya menerangkan selama
ini Masjid Ki Merogan sudah
tiga kali direnovasi. Tahun
1950 renovasi kubah dari bentuk
Limas diganti bundar. Kemudian
tahun 1989 bantuan
tua Yayasan Masjid Lawang Kidul
ditemui Sripo kemarin
membenarkan jika Masjid Lawang
Kidul dibangun di pinggiran
sungai karena alasannya
adalah sumber air wudhu adalah
sungai, transportasi kala itu
juga di sungai termasuk jual beli
(perdagangan) dilakukan di
sungai.
"Dulu di belakang masjid ini
hutan semua, tidak ada jalan
masyarakat Palembang ini tinggal
di pinggiran sungai," ungkapnya
seraya menerangkan jika
semua masjid tua di Palembang
ini bentuk dan lokasi bangunannya
di pinggir sungai
alasannya sama karena transportasi,
sosial dan ekonomi
masyarakat ditentukan dengan
keberadaan sungai khususnya
Sungai Musi.
"Kalau bangunan tambahan
ini masih baru sekitar tahun
1983-1987 masa KHO Gadjah
Nata, belum banyak dipoles sejak
dibangunnya," ujar Mansyur
seraya mengakui Masjid Lawang
Kidul dirawat dan dipelihara
melalui dana swadaya masyarakat
dan sumbangan jamaah.
Mansyur Husin mengakui
pemerintah kabarnya mau
menggalakkan pariwisata sungai,
sehingga masjid-masjid di
bantaran Sungai Musi ini minimal
harus ditata dan direnovasi
lagi bagian-bagian bangunannya
yang menghadap ke
sungai. "Tapi kami belum tahu
dananya dari mana, kalau pemeliharaan
kecil-kecilan bisa
daja dananya dari sumbangan
jamaah dan warga setempat,"
ungkap Mansyur.
Memperhatikan kondisi
masjid-masjid tua di Palembang
yang memiliki nilai sejarah
dan budaya ini sudah selayaknya
pemerintah memberikan
sentuhannya. Supaya masjid-
masjid itu bukan saja menjadi
tempat ibadah umat melainkan
juga tempat pengkajian
ke Islaman dan juga aset sejarah
yang patut dipertahankan,
serta dirawat dengan baik
dan benar sesuai dengan fungsinya.***
MENURUT Mansyur H
Husin, Masjid Lawang Kidul
pada awalnya dikelola secara
keluarga. Sejak tahun 1968
pengelolaan masjid dialihkan
ke Yayasan Masjid dan pengurusnya
pun masuk orang-orang
yang bukan dari keluarga
pendirinya tetapi masyarakat
umum. "Sejak dikelola
Yayasan itulah masjid ini ditambahkan
bangunannya
Mengharap Pengkajian Keagamaan
bentuk Leter L, masa KHO Gadjah
Nata tahun 1983-1987."
Diakuinya, saat ini fasilitas
masjid cukup memadai, untuk
sarana tikar dan karpet cukup,
penerangan, penegras suara
bagus. Hanya saja masih menjadi
pemikiran yayasan adalah
tempat dan sarana pengkajian
ke Islaman seperti yang ada di
Masjid Agung.
"Kami juga berniat untuk
membangun tempat pusat
pengkajian dalam rangka
mencetak cendikiawan muslim,
selama ini kegiatan di sini
selain dari shalat pengajian
biasa," papar Mansyur sembari
berharap pemerintah
mau membangun fasilitas
tambahan di Masjid Lawang
Kidul khusus untuk kegiatan
pengkajian atau sejenisnya.***
dari H Halim, kubah bundar diubah
lagi kembali kepada bentuk
aslinya. "Pada tahun yang
sama juga direnovasi bangunan
kelilingnya," terang Usman
Ahmad.***
Posted in: on at di 20.19 0 komentar
Posted in: on at di 20.17 0 komentar
Copyright 2007 | All Rights Reserved. Peaceful Rush by Small Potato Blogger Templates by Blog Forum